Jelang Maulid Nabi, Keris Peninggalan Kerajaan Majapahit Dimandikan di Majalengka

  • Whatsapp

KATA MAJALENGKA – Bagi sebagian besar umat Islam di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, hari kelahiran Nabi Muhammad SAW kerap diperingati dengan kegiatan gerebek mulud. Namun, pemandangan berbeda ditampilkan masyarakat di Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka,

Masyarakat di daerah tersebut, menyelenggarakan ritual jamasan pusaka (membersihkan benda pusaka) yang tersimpan di Yayasan Al-Alawiyah Padepokan Nur Sedjati (YA PNS).

Bacaan Lainnya

Sejumlah Keris dan Pusaka peninggalan masa lalu dipamerkan. Dari jutaan pusaka koleksi yang ada di yayasan tersebut, Keris jenis Tilam Upih, tercatat sebagai pusaka tertua yang ada di YA PNS.

Pimpinan YA PNS, Buyut Enda mengatakan, hingga sampai sekarang ada 1.270.001 pusaka, dengan berbagai jenis. Ada Keris, Tombak, Pedang dan lain-lain.

“Sebagian ada yang disimpen di temen-temen anggota yayasan,” Ungkap Buyut Enda, Selasa (27/10/2020).

Terkait koleksi tertua, Buyut menyebutkan, ada dua pusaka yang saat ini jadi koleksinya. Keduanya diketahui peninggalan dari Kerajaan Majapahit, dalam bentuk Keris.

“Tilam Upi dan Brojol pamor Kebo Teki, itu masa Majapahit. Ini (dua pusaka) didapat pada 2013,” jelasnya.

Buyut menjelaskan, dua pusaka tersebut, didapatnya dari daerah Cilacap. Terkait latar belakang sendiri, jelas dia, dua keris itu diperolehnya dari leluhur keluarga istrinya.

Dalam hal perawatan, dua keris masa Majapahit dan jutaan pusaka lainnya biasa dicuci setiap Bulan Maulid. Ada beberapa alasan mengapa pusak-pusakanya itu, dicuci setiap bulan Maulid.

“Moment untuk mengubah persepsi banyak orang tentang pusaka, yang sering dikaitkan dengan mistis. Kami biasa melakukannya pada bulan Maulid ini,” papar dia.

Kenapa harus dicuci?, menurutnya, karena ini sebagaian benda pusaka bahannya dari besi. Kalau nggak dicuci bisa berkarat, rusak. “Makanya saat nyuci pun menggunakan jeruk, untuk menghilangkan karat tersebut,” paparnya.

Sementara pusaka masa majapahit sendiri, kata dia, didapat pada tahun 2013. ini turun temurun dari keturunana Solo dan dapet dari Cilacap, turunan ke-9.

“Ini dari jalur istri dan beberapa meninggal yang pegang ini. Tapi, itu sudah takdiran. Benda seperti ini tidak membunuh,” Katanya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *